Ansar menyebut Kepri memiliki luas wilayah laut mencapai 417 ribu kilometer persegi, bahkan lebih luas dibandingkan wilayah Malaysia. Selain itu, Kepri juga memiliki kawasan konservasi perikanan budidaya seluas 2,9 juta hektare.
“Potensi hasil tangkapan perikanan Kepri mencapai 1,3 juta ton dengan berbagai komoditas unggulan seperti cumi-cumi, ikan demersal, ikan karang, lobster hingga udang,” kata Ansar.
Di sektor pariwisata, Ansar mengatakan Kepri menjadi salah satu dari tiga pintu masuk wisatawan mancanegara terbesar di Indonesia bersama Bali dan DKI Jakarta.
Kepri juga dikenal sebagai destinasi wisata olahraga internasional dan memiliki kawasan pariwisata unggulan di Lagoi, Kabupaten Bintan.
“Kepri juga terus mengembangkan konsep cross border tourism bersama Malaysia, Singapura, dan Thailand,” ujarnya.
Ansar turut menyoroti potensi wisata halal Pulau Penyengat di Tanjungpinang yang telah meraih penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023 dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI.
Pada sektor investasi, Ansar memaparkan sejumlah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang menjadi penggerak ekonomi daerah.
Di antaranya KEK Galang Batang yang bergerak di industri smelter bauksit dengan realisasi investasi mencapai Rp21 triliun hingga akhir 2024.
Selain itu, KEK Batam Nongsa Digital Park juga berkembang sebagai pusat teknologi informasi dan pengembangan kecerdasan buatan yang menjembatani Indonesia dengan Singapura dan pasar global.
“Pada kawasan ini juga terdapat data center Indonesia yang menjadi pusat pengembangan dunia digital dan artificial intelligence,” ungkap Ansar.
Ansar menambahkan, Kepri juga terus menjaga stabilitas ekonomi daerah. Inflasi Kepri pada April 2026 tercatat sebesar 3,06 persen dan sebelumnya berhasil meraih TPID Award 2024 sebagai TPID provinsi berkinerja terbaik di Sumatera.
“Pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan I tahun 2026 tumbuh 7,04 persen secara year on year. Ini menempatkan Kepri di peringkat pertama di Sumatera dan peringkat kelima nasional,” jelasnya.
Tak hanya itu, angka kemiskinan di Kepri juga terus menurun hingga berada di angka 4,26 persen pada September 2025, sekaligus menjadi yang terendah di Sumatera dan peringkat keempat terendah secara nasional.
“IPM Kepri tahun 2025 mencapai 80,53 dan menjadi yang terbaik di luar Pulau Jawa,” kata Ansar.
Gubernur Ansar juga menyampaikan capaian Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) Kepri tahun 2025 sebesar 83,68 poin. “Capaian ini meningkat dibanding tahun sebelumnya dan menempatkan Kepri di posisi tiga besar regional Sumatera,” tutupnya. (*/man)



