“Kami tidak berpikir bahwa peningkatan IMT dapat menjadi penyebabnya,” kata Ingvild Halsør Forthun, seorang peneliti PhD di Universitas Bergen di Norwegia.
Paparan zat kimia
Salah satu teori terkemuka adalah bahwa paparan zat kimia pengganggu endokrin yang ditemukan dalam makanan dan produk sehari-hari dapat memicu pubertas lebih awal.
Dalam studi global tentang waktu pubertas anak perempuan dalam beberapa dekade terakhir, tim Juul menemukan bahwa “campuran” berbagai zat kimia dapat meniru hormon dan membuat anak-anak memasuki masa pubertas di usia yang lebih muda.
Namun, baru-baru ini, bukti tentang faktor kimia tampak tidak meyakinkan dan “masih belum jelas” tentang peran senyawa ini, kata Juul.
“Ketika kami mengelompokkan anak-anak menurut [kadar] kimia, kami melihat perbedaan yang mencolok. Jika menyangkut bahan kimia yang mengganggu endokrin, saya rasa itu adalah dugaan yang sangat kuat, tetapi kami merasa sulit untuk memberikan bukti yang kuat,” ungkap Juul.
Faktor gaya hidup
Selama bulan-bulan awal pandemi COVID-19, dokter Italia memperhatikan tren yang mengkhawatirkan, yakni semakin banyak remaja wanita yang datang ke klinik endokrinologi pediatrik dengan tanda-tanda pubertas dini, seperti perkembangan jaringan payudara dini.
Dari Maret hingga September 2020, terdapat 328 rujukan untuk anak perempuan, naik dari 140 rujukan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, rujukan tersebut kembali menurun pada tahun 2022.
Para peneliti meyakini peningkatan gaya hidup yang tidak banyak bergerak dan penggunaan ponsel selama era awal pandemi mungkin terkait dengan peningkatan tersebut.
Ahli juga menduga bahwa stres yang intens selama pandemi juga dapat mendorong perubahan yang mereka lihat. (Iv/HarapanMedia.com)



