“Kemudian pengetatan kebijakan moneter global yang lebih cepat dari yang diantisipasi, dan ini juga menciptakan ancaman bagi pemulihan ekonomi. Saya prediksi, situasi global akan tetap sulit di tahun 2022 dan mungkin dapat meluas hingga tahun 2023,” ucap Ibrahim.
BACA JUGA :Hasil Investigasi Tragedi Kanjuruhan, PSSI Harus Bertanggung Jawab
Ibrahim melanjutkan, tak satu pun orang dapat meramalkan bagaimana kondisi ekonomi global ke depan. Meski demikian, ia menyatakan negara perlu optimistis bahwa otoritas fiskal dan moneter akan membuat kebijakan yang tepat. Cara Indonesia menghadapi krisis, kata dia, sudah terbukti saat pandemi Covid-19.
“Pemerintah akan berfokus terhadap konsumsi masyarakat agar terus bisa berjalan dengan baik dengan memberikan insentif yang lebih terutama berupa Bantuan sosial, BLT, subsidi pangan dan lainnya karena Konsumsi masyarakat 50 persen berpengaruh pada produk domestik bruto,” ucapnya. (Red)



