HARAPANMEDIA.COM, BATAM – Pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Yon Machmudi, mengatakan tempat-tempat ibadah di Arab Saudi dibebaskan dari simbol-simbol politik, termasuk dukungan terhadap suatu bangsa, negara, maupun kelompok politik tertentu terkait konflik.
Otoritas Arab Saudi baru-baru ini dikabarkan menahan sejumlah jemaah yang mengenakan syal keffiyeh, atau penutup kepala tradisional Palestina, maupun yang mendoakan rakyat Palestina di Mekkah dan Madinah
“Di Saudi itu tempat-tempat ibadah dibebaskan dari simbol-simbol politik termasuk di dalamnya dukungan terhadap suatu bangsa, negara, kelompok politik dan lain sebagainya. Maka dari itu yang terjadi di tanah suci, di Masjidil Haram ketika beribadah maka tidak diperbolehkan menggunakan simbol-simbol itu,” kata Yon, Jumat (17/11).
BACA JUGA:Wajah Terlihat Lebih Tua Dari Usia Sebenarnya? Kenali 7 Penyebabnya
Yon menjelaskan keffiyeh merupakan simbol yang menunjukkan perlawanan Palestina sehingga penggunaannya dilarang karena dianggap memberikan dukungan kepada Palestina.
Ia juga mengatakan aksi mendoakan rakyat Gaza secara lantang di depan khalayak sama saja dengan bentuk dukungan politis sehingga yang melakukannya di Masjid Nabawi bisa ditangkap oleh otoritas Saudi.
Menurut Yon, larangan ini ditetapkan Arab Saudi karena negara Timur Tengah itu ingin menjamin agar tanah suci bebas dari berbagai macam simbol, kegiatan, serta hal-hal yang dirasa ‘mengandung unsur-unsur politik’.



