HomeKepriGubernur Ansar Silaturahmi ke PWI Kepri, Gagas Eksplorasi Sejarah dan Pesona Pulau...

Gubernur Ansar Silaturahmi ke PWI Kepri, Gagas Eksplorasi Sejarah dan Pesona Pulau Penyengat

spot_img

Gagasan tersebut mendapat sambutan dari Dewan Pakar PWI Kepri Ramon Damora yang selama ini memiliki perhatian terhadap seni, budaya dan sejarah Melayu.

Ramon menyoroti kekayaan bahasa Melayu di Kepulauan Riau serta kaitannya dengan perkembangan bahasa Indonesia.

Menurut dia, jejak sejarah perkembangan bahasa Melayu di Kepri perlu terus dikaji dan diperkenalkan kepada masyarakat luas, termasuk melalui kekayaan literatur yang lahir dari kawasan tersebut.

“Perlu ada kajian khusus dan bagaimana Pulau Penyengat semakin dikenal, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di Asia bahkan secara global,” ujar Ramon.

Ramon menyebut Penyengat memiliki kekayaan literatur dan jejak intelektual yang panjang. Warisan tersebut, menurut dia, penting diangkat kembali agar tidak berhenti sebagai peninggalan sejarah, tetapi menjadi pengetahuan yang terus hidup.

BACA JUGA: Riadi Terpilih Secara Aklamasi Kembali Pimpin PWI Kabupaten Karimun, Saibansah Minta Jaga Kekompakan

Ramon saat ini juga mengemban amanah sebagai Ketua Departemen Seni, Musik, Film dan Budaya dalam struktur kepengurusan PWI Pusat periode 2025-2030.

Gerakan Literasi Menyambut 100 Tahun Sumpah Pemuda

Dari pembicaraan mengenai Penyengat, gagasan kemudian berkembang menjadi gerakan literasi dan dokumentasi menyambut 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028.

Ramon mengusulkan agar momentum tersebut tidak hanya diperingati melalui kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menghimpun berbagai cerita, pemikiran, karya dan kekayaan budaya dari berbagai daerah.

Masyarakat tempatan, masyarakat Kepri, pelajar, seniman, fotografer, jurnalis dan berbagai profesi lainnya dapat mengambil bagian.

Kontribusi tidak harus selalu berbentuk tulisan jurnalistik. Cerita masyarakat, karya sastra, foto, catatan sejarah, karya seni hingga dokumentasi lainnya dapat dihimpun menjadi arsip digital yang merekam wajah Kepri menjelang satu abad Sumpah Pemuda.

BACA JUGA  140 Tenaga Welding Ikuti Pelatihan di Balai Pelatihan Kerja Bintan

“Misalnya ada 100 tulisan dari masyarakat tempatan, masyarakat Kepri dan lainnya, ada dari seniman dan dari profesi lainnya. Nanti dikumpulkan dalam satu file besar secara digital,” kata Ramon.

Menurut dia, gerakan tersebut dapat menjadi salah satu cara memperkenalkan kembali kekayaan sejarah, bahasa dan kebudayaan Melayu Kepri kepada generasi muda.

Pulau Penyengat, dengan jejak sejarah dan tradisi intelektualnya, dapat menjadi salah satu sumber cerita utama dalam gerakan tersebut.

“100 tahun Sumpah Pemuda seharusnya tidak hanya diperingati secara seremonial, tetapi juga meninggalkan warisan pengetahuan yang dapat dibaca dan diakses oleh generasi setelahnya,” ujarnya.

Gubernur Siap Fasilitasi

Gagasan tersebut mendapat respons positif dari Gubernur Ansar Ahmad.

Ansar menyatakan Pemerintah Provinsi Kepri siap memfasilitasi kunjungan wartawan PWI Kepri ke Pulau Penyengat untuk menggali lebih jauh potensi sejarah, budaya dan pariwisata yang dimiliki pulau tersebut.

Menurut Ansar, Penyengat kini tidak hanya memiliki berbagai situs sejarah dan budaya, tetapi juga fasilitas penginapan yang memungkinkan wisatawan maupun rombongan tinggal lebih lama.

“Sekarang di Pulau Penyengat sudah ada beberapa homestay, bisa bermalam di sana. Berangkat siang dari Batam, bisa kumpul malam di sana. Pagi kita sarapan bersama dan siangnya bisa pulang,” kata Ansar.

Ansar kemudian melontarkan candaan yang kembali mencairkan suasana.

“Asal jangan malam Jumat, saya ada acara rutin yasinan,” ujarnya, disambut tawa para pengurus PWI Kepri.

Pertemuan itu akhirnya tidak berhenti pada sebuah agenda silaturahmi.

Dari Graha PWI Kepri, muncul gagasan untuk menjadikan jurnalistik sebagai jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan generasi masa kini.

Pulau Penyengat dapat dibaca bukan sekadar sebagai gugusan kecil di perairan Tanjungpinang, melainkan sebagai ruang tempat sejarah Melayu, bahasa, sastra, tradisi dan kehidupan masyarakat bertemu.

BACA JUGA  Tiang Listrik PLN Batam Nyaris Tumbang di Dekat Pintu Masuk Puskesmas Seilangkai Sagulung

Dari sebuah pulau kecil, tersimpan cerita besar tentang Melayu.

Dan melalui tulisan para jurnalis, cerita itu dapat kembali dihidupkan, didokumentasikan dan diperkenalkan kepada generasi yang akan datang. (*/man)

BERITA TERKAIT
spot_img

POPULER HARI INI

BERITA TERKINI