“Fakta bahwa ia bertindak seperti ini menurut saya tidak mencerminkan nostalgia yang kuat dari pihak kanan terhadap gaya kepemimpinan otoriter. Saya pikir itu mencerminkan kepribadian Yoon,” ujar John.
“Momentum politik sudah mulai menjauh dari presiden, yang mungkin menjadi alasan ia memutuskan untuk bertindak seperti ini. Namun, itu adalah keputusan yang sembrono dan sangat keliru, dan saya menduga itu akan menjadi bumerang, jika indikator awal dapat dijadikan acuan,” tambahnya.
Deklarasi darurat militer yang berumur pendek oleh Yoon terjadi lantaran ia ‘putus asa’ dalam menghadapi popularitas publik yang sangat rendah, dengan peringkat positif hanya sedikit di atas 10%. Ini juga terjadi di tengah pemogokan dokter dan oposisi politik yang keras.
Yoon mungkin berpikir bahwa langkatnya dalam mengumumkan dekrit darurat militer akan beresonansi dengan setidaknya sebagian dari spektrum politik Korea Selatan, tetapi rupanya ia salah perhitungan.
Majelis Nasional dengan suara bulat berhasil membatalkan deklarasinya hanya dalam beberapa jam, termasuk oleh partainya sendiri. Ini terjadi meski pasukan militer sudah mengepung gedung parlemen. Dalam beberapa jam, ia dipaksa untuk mundur, dan darurat militer secara resmi dicabut setelah rapat kabinet. (*)



