Selain itu, gelombang atmosfer Kelvin diprediksi aktif di wilayah Papua bagian Utara tanggal 10-11 September 2024.
BMKG mengungkapkan, sirkulasi siklonik berada di Samudera Pasifik Timur laut Papua yang membetuk wilayah konvergensi di Laut Filipina dan Samudera Pasifik di sekitar sirkulasi.
Daerah konvergensi lainnya memanjang di samudera Hindia Barat Sumatra, Laut Cina Selatan, dan Papua Pegunungan. Daerah konfluensi berada di Laut Cina Selatan, Samudra Hindia barat Sumatra Barat, Laut Timor, dan Samudra Pasifik utara Papua.
Disebutkan, kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan di sepanjang low level jet/konvergensi/konfluensi tersebut.
Sementara itu, ada peningkatan kecepatan angin hingga mencapai lebih 25 knots, terpantau di Laut Andaman, Samudera Hindia barat daya Bengkulu, Laut Timor, Laut Arafuru, dan Laut Coral selatan Papua. Yang mampu meningkatkan tinggi gelombang di wilayah sekitar perairan tersebut.
Dengan kombinasi fenomena-fenomena cuaca tersebut BMKG pun mengeluarkan peringatan dini untuk period 10-16 September 2024:
– Potensi Hujan sedang – lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang
di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kep. Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, DK Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.
– Potensi Angin Kencang
di wilayah Sumatra Utara, Riau, Kep. Riau, Kep. Bangka Belitung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi
Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, Papua Barat Daya, dan Papua Selatan.
“Tetap tenang namun tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang sewaktu-waktu dapat terjadi,” demikian imbauan BMKG. (*)



