Menurut sejumlah penelitian, makanan dengan kadar IG dan BG yang tinggi dapat merusak fungsi otak.
Salah satu studi menemukan bahwa beban glikemik yang tinggi dapat merusak ingatan pada anak-anak dan orang dewasa hanya dengan satu kali konsumsi. Sementara itu, studi lain dengan partisipan mahasiswa yang sehat juga menemukan bahwa mengonsumsi tinggi lemak dan gula olahan memicu ingatan yang lebih buruk.
Efek terhadap ingatan ini kemungkinan besar disebabkan oleh peradangan di hipokampus, yakni bagian otak yang memengaruhi beberapa aspek ingatan, serta respons terhadap sinyal lapar dan kenyang. Peradangan ini dinilai sebagai faktor risiko untuk penyakit degeneratif otak, termasuk Alzheimer dan demensia.
3. Makanan Tinggi Lemak Trans
Lemak trans adalah jenis lemak tak jenuh yang memiliki dampak buruk bagi kesehatan otak. Lemak trans yang diproduksi oleh pabrik, seperti minyak nabati hidrogenasi, adalah jenis yang harus dihindari.
“Lemak trans buatan ini dapat ditemukan dalam bahan pengganti lemak, margarin, krim kue, makanan ringan, kue siap saji, dan kue-kue kemasan,” tulis Healthline, dikutip Jumat (1/3/2024).
Penelitian telah menemukan bahwa ketika orang yang mengonsumsi banyak jumlah lemak trans cenderung memiliki risiko terkena penyakit Alzheimer, ingatan yang lebih buruk, volume otak yang lebih rendah, dan penurunan kognitif yang lebih tinggi.
Sementara itu, salah satu studi pada 38 perempuan menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi lebih banyak lemak jenuh memiliki pengukuran ingatan dan pengenalan yang lebih buruk.
4. Makanan Instan
Makanan instan, seperti keripik, permen, mie instan, popcorn microwave, saus buatan toko, dan makanan siap saji, terkenal mengandung kadar gula yang tinggi, lemak tambahan, dan garam.
Makanan-makanan ini biasanya tinggi kalori dan bernutrisi rendah yang dapat menyebabkan obesitas dan berdampak negatif pada kesehatan otak.
Sebuah studi pada 243 orang menemukan bahwa peningkatan lemak di sekitar organ, atau lemak visceral, berkaitan erat dengan kerusakan jaringan otak. Lalu, studi lain pada 130 orang menemukan adanya penurunan pada jaringan otak pada tahap awal sindrom metabolik. (*)



