Pj Kepala Desa Lancang Kuning, Federic Van Resha, yang baru bertugas beberapa hari di desa ini. Seiring berjalan waktu, untuk madu dan kelapa lokasinya di sekitar rumah mantan Kades Kholili Bunyani dan untuk sapi di Toapaya.
BACA JUGA:Â Rudi Minta Upacara Bendera HUT Kemerdekaan Berjalan Lancar Tanpa Kendala
Sementara untuk sapi karena masalah kesiapan BUMDes, hingga pengembangan ada kendala, saat itu berinisiatif dititipkan kepada penyedia sapi yang berjumlah 20 ekor. Di antaranya, sapi jantan 8 ekor dan betina 12 ekor.
Namun waktu pengelolaan ada 2 sapi yang mati dan sudah dilaporkan, saat ini tersisa 18 ekor.
“Sudah dilakukan pengecekan terhadap sapi masih ada, ke depan aset yang tidak berada di desa akan ditarik kembali ke Lancangkuning,” katanya.
Ia menambahkan, dari hasil diskusi dirinya akan berusaha memenuhi harapan warga terkait kejelasan wujud dari tiga program yang dipertanyakan warga.
“Jadi kita akan followup dengan membentuk Bumdes terlebih dahulu, sehingga aset-aset desa yang ditanyakan warga akan dikelolah di sana,” katanya.
BACA JUGA:Â Olahan Asli Produk Lokal Bintan Ekspor 9,5 Ton Ikan Kerapu dan Kakap Beku ke Australia
Ia pun berharap kepada warga untuk bersabar. “Kita ikuti tahapan, insyallah kita akan kembalikan ke desa dengan pengelolaan di Bumdes,” tuturnya.
Sementara itu, pengadaan sapi ada dua tahap, tahap pertama Rp 120 juta, tahap dua Rp 130 juta untuk 20 ekor sapi.
Selain itu, pembangunan kandang sapi Rp 130 juta, pengembangan lebah madu kelulut Rp 350 juta dan budidaya lebah madu kelulut Rp 260 juta.
Penggemukan dan pengembangam sapi Rp 250 juta. Hal tersebut sesuai dengan Rancangan RPJM Desa tahun 2016 hingga 2021. (*/man)



