HARAPANMEDIA.COM, BATAM – Fenomena shrinkflation ini sudah terlihat di mana-mana. Dari kertas toilet, yogurt, kopi, hingga keripik jagung, produsen diam-diam mengecilkan ukuran paket tanpa menurunkan harga. Inilah yang dijuluki “penyusutan”.
Lantas apa itu shrinkflation? Shrinkflation merupakan salah satu jenis inflasi di mana perusahaan mengecilkan produk dan menjualnya dengan harga yang sama.
BACA JUGA : Tiga Alasan Wuling Semakin Diminati Masyarakat Indonesia
Di Inggris, Nestle mengecilkan kaleng kopi Nescafe Azera Americano dari 100 gram menjadi 90 gram. Di India, sebatang sabun cuci piring Vim telah menyusut dari 155 gram menjadi 135 gram.
Menurut para ahli, penyusutan produk bukanlah hal baru. Akan tetapi, hal itu berkembang biak di saat inflasi tinggi karena perusahaan bergulat dengan kenaikan biaya bahan, pengemasan, tenaga kerja, dan transportasi.
Berdasarkan data S&P Global, tingkat inflasi harga konsumen global naik sekitar 7% pada Mei, kecepatan yang kemungkinan akan berlanjut hingga September.
Melansir Investopedia, shrinkflation adalah praktik mengurangi ukuran suatu produk sambil mempertahankan harga barang. Menaikkan harga per jumlah tertentu adalah strategi yang digunakan oleh perusahaan, terutama di industri makanan dan minuman, untuk secara diam-diam meningkatkan margin keuntungan atau mempertahankannya dalam menghadapi kenaikan biaya produksi.



