HomeBatamWali Kota Amsakar Temukan Pria Paruhbaya Dalam Kondisi Memprihatinkan di Halte Simpang...

Wali Kota Amsakar Temukan Pria Paruhbaya Dalam Kondisi Memprihatinkan di Halte Simpang Cikitsu

spot_img

HARAPANMEDIA.COM, BATAM-  Beberapa waktu lalu, Wali Kota Batam Amsakar Achmad menghampiri seorang pria yang duduk di halte kawasan Simpang Cikitsu, Batam Kota.
Pria paruhbaya itu ditemukan orang nomor 1 di Batam dalam kondisi yang memprihatinkan.
Kedua tangan dan kakinya dipenuhi luka hingga membuatnya sulit beraktivitas. Pria itu adalah Wahyudi (42), seorang perantau asal Pulau Kijang, Tembilahan, Riau, yang sudah hampir tiga dekade mengadu nasib di Batam.
Saat ditemui di ruang isolasi Rumah Sakit BP Batam (RSBP), tangannya tampak dibalut kasa.
Jemari yang terluka diletakkan di samping tubuhnya.
Kakinya juga dibalut perban, sementara bagian tubuh dari lutut hingga ke bawah tertutup selimut.
Wahyudi mengaku tak pernah menyangka pertemuannya dengan Amsakar di halte itu akan mengubah nasibnya.
“Waktu itu saya lagi di halte KFC. Tiba-tiba bapak itu (Amsakar) datang sendiri. Dia bilang, ‘Sakit ya pak?’ Saya ngangguk, terus saya dikasih uang. Lalu katanya nanti ada tim yang jemput. Saya enggak tahu kalau itu Pak Wali,” ujar Wahyudi saat ditemui pada Senin (27/7).
Tak lama setelah pertemuan itu, petugas dari Dinas Sosial datang menjemputnya dan membawanya ke RSBP Batam untuk menjalani perawatan.
Kini, di ruang isolasi RSBP, Wahyudi mengaku bersyukur karena akhirnya mendapat penanganan medis.
Ia pun menyampaikan terima kasih kepada Amsakar yang telah menghampirinya dan mengupayakan pengobatan.
Di balik kondisinya saat ini, tersimpan kisah panjang seorang perantau. Wahyudi datang ke Batam sekitar 1998, jauh sebelum menikah.
Ia sempat bekerja di sebuah pabrik plastik selama tiga tahun, kemudian berpindah-pindah perusahaan demi memenuhi kebutuhan hidup.
Namun keadaan berubah. Saat tak lagi memiliki pekerjaan tetap, ia juga kehilangan tempat tinggal karena tak sanggup membayar uang kontrakan di kawasan Ruli Simpang Raya.
“Karena enggak ada kerjaan, gak lagi bisa bayar kontrakan, ya di jalan,” kata bapak dua anak ini.
Selama hampir 20 hari terakhir, halte di Simpang Cikitsu menjadi tempatnya berteduh.
Untuk makan sehari-hari, ia mengandalkan bantuan warga yang iba terhadapnya.
Sesekali, ia mendapat uang dari membantu menjaga parkir di sekitar kawasan tersebut.
“Kalau makan dikasih orang. Kadang-kadang ada jaga parkir di Cikitsu nanti dikasih orang,” tuturnya. (*)

BERITA TERKAIT
spot_img

POPULER HARI INI

BERITA TERKINI