Dr Vora menyebut ada tiga “tanda merah” yang umumnya ditemukan di hampir semua mi instan dan membuatnya berbahaya bila dikonsumsi terlalu sering.
1. TBHQ: Pengawet sintetis yang memicu stres oksidatif.
Salah satu bahan yang disorot adalah TBHQ (Tertiary Butylhydroquinone), pengawet sintetis yang digunakan untuk memperpanjang umur simpan produk olahan. Menurut Dr Vora, TBHQ adalah antioksidan buatan. Bahan itu menjaga minyak dan lemak agar tidak cepat tengik, dan dapat memicu stres oksidatif bila dikonsumsi sering hingga memberi beban tambahan pada tubuh.
2. Cangkir polistirena yang melepas mikroplastik.
Banyak produk cup noodles menggunakan kemasan polystyrene, sejenis plastik sintetis. Ketika air panas dituangkan, risiko pelepasan mikroplastik meningkat.
“Begitu kamu menambahkan air panas, mikroplastik bisa keluar dan masuk ke tubuh. Ini meningkatkan peradangan dan mengiritasi usus seiring Waktu,” kata dr, Vora.
Paparan mikroplastik telah dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan pada sejumlah studi.
3. Pewarna, perisa sintetis, dan MSG yang picu keinginan makan.
Dr Vora juga menyoroti tingginya kandungan pewarna buatan, perisa sintetis, serta MSG (monosodium glutamate), yang semuanya membuat mi instan terasa lebih gurih dan adiktif.
“Ini formulasi ultra-proses yang membuat rasanya lebih kuat, meningkatkan craving, dan dibuat untuk bertahan lama di rak,” ujarnya.
Meski mi instan masih aman sesekali, Dr Vora menekankan, menjadikannya makanan utama dapat menyebabkan peradangan kronis, gangguan pencernaan, penumpukan stres oksidatif, hingga ketidakseimbangan nutrisi.
Ahli kesehatan juga mengingatkan pentingnya memperbanyak air putih, menjaga pola makan seimbang, dan rutin beraktivitas fisik untuk membantu menjaga kesehatan tubuh dalam jangka panjang. (*)


