“Kami juga menunggu perpanjangan kontrak blok yang berlaku hingga 2029. Mohon dukungan dan doa agar terdapat tambahan cadangan minyak dan gas yang bisa meningkatkan produksi ke depan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Vera Novita Rahma dari Star Energy (Kakap) Ltd. yang menyebutkan bahwa pihaknya menargetkan produksi sekitar 1.000 barel per hari meskipun masih menghadapi sejumlah kendala teknis. Selain itu, Star Energy juga terus menjalankan program pembinaan masyarakat di Anambas serta kegiatan sosial berupa pengobatan massal rutin setiap tahun.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur Ansar Ahmad menegaskan dukungan penuh Pemerintah Provinsi Kepri terhadap keberlangsungan investasi migas di wilayah Kepulauan Riau.
“Doa dan dukungan Pemprov Kepri untuk seluruh KKKS yang selama ini telah berkontribusi dalam produksi migas agar tetap eksis. Yang sedang dalam proses perizinan dan perpanjangan kontrak juga kita doakan semoga berjalan lancar dan lebih cepat,” ujar Ansar.
Gubernur Ansar juga meminta daftar usulan perpanjangan kontrak yang saat ini masih berproses agar dapat turut dibantu komunikasinya di tingkat kementerian. Menurutnya, Kepri memiliki posisi strategis secara geografis dan geoekonomi sehingga harus menjadi kontributor besar bagi kedaulatan energi nasional.
“Potensi besar di laut Kepri harus dimanfaatkan secara maksimal melalui kolaborasi bersama pemerintah pusat. Kepri memiliki posisi yang sangat strategis untuk mendukung ketahanan energi Indonesia,” tegasnya.
Selain itu, Ansar berharap skema Participating Interest (PI) bagi daerah dapat terus direalisasikan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ia juga memahami tantangan operasional sejumlah perusahaan migas, termasuk lokasi eksploitasi yang jauh dan kompleksitas pekerjaan di lapangan.
Namun demikian, Pemprov Kepri tetap berkomitmen memfasilitasi agar PI dapat terus berjalan dan memberikan manfaat bagi daerah.
Terkait program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), Ansar berharap pola kerja sama yang dibangun dapat lebih diarahkan pada kebutuhan masyarakat setempat, khususnya di Natuna dan Anambas.
“Program CSR ke depan bisa lebih disinergikan dengan kebutuhan masyarakat. Kita berharap suatu saat anak-anak tempatan Natuna dan Anambas juga dapat ikut terlibat dan mendampingi dalam industri migas di daerahnya sendiri,” tutup Ansar. (*)



