Xinyang mengancam, jika tak dibelikan flat, maka ia akan melepaskan gelar master dan menolak tawaran kuliah doktoralnya.
Orang tuanya kemudian menyewa sebuah flat di Beijing. Mereka berbohong bahwa flat yang ditinggali Xinyang adalah flat yang dibeli, bukan disewa.
“Membeli apartemen, mendapatkan pekerjaan bagus, dan secara resmi terdaftar sebagai penduduk kota adalah ‘sukses’,” ujar Xinyang kala itu, dalam sebuah laporan stasiun televisi pemerintah China Central Television (CCTV) pada 2011 lalu.
Namun, pandangan Xinyang akan kesuksesan berubah saat ia menyelesaikan studi doktoralnya. Kini, ia berpikir bahwa diam tak melakukan apa pun sebagai kunci kebahagiaan.
“Duduk dan tidak melakukan apa pun adalah kunci menuju kebahagiaan seumur hidup,” kata Xinyang.
Perubahan pandangan hidup Xinyang dan ketergantungannya pada orang tua memicu obrolan di media sosial. Beberapa mendukung, tapi ada juga yang tak mendukung.
“Dia adalah talenta yang bagus. Orang tuanya terobsesi untuk memupuk anak ajaib dan akhirnya dia mengkompensasi hilangnya proses pertumbuhannya dengan cara lain,” ujar salah seorang warganet China di platform Weibo.
Beberapa orang lain menyesali kondisi Xinyang saat ini. Mereka menggambarkannya sebagai ‘kejatuhan keajaiban’.
“Dia tidak tiba-tiba menjadi orang dewasa yang suka menggerogoti orang tua. Dia menyerah setelah mencoba melepaskan diri berkali-kali dan gagal,” tulis warganet lain. (Red)



