“Semua sangat membutuhkan. Contohnya saat Covid-19 kemarin, anak-anak kesulitan belajar karena nggak ada akses internet, atau nelayan-nelayan susah dihubungi karena tidak ada sinyal,” ujar Arif.
SATRIA-1 sendiri, setelah diluncurkan tidak bisa langsung berfungsi memancarkan sinyal internet. Diprediksi, pada minggu keempat bulan Desember 2023, satelit ini baru bisa digunakan, karena membutuhkan waktu kurang lebih 145 hari untuk sampai pada orbitnya.
Untuk mendukung agar sinyal internet dapat tersambung ke perangkat keras, Kepri sudah memiliki 77 base transceiver station (BTS) yang baru dibangun pada 2021 – 2022 lalu. Pembangunan BTS ini menjadi infrastruktur yang mendukung kegiatan telekomunikasi, khususnya di Kepri.
“Alhamdulillah, saya sangat terharu atas kesuksesan peluncuran SATRIA-1 ini. Kami dari Pemprov Kepri memang gencar mengajukan program terkait kemudahan akses internet ini,” ujar Kepala Diskominfo Kepri, Hasan.
Di antara para peserta nobar, ada juga 20 murid dari SMAN 1 Batam yang ikut menyaksikan peluncuran SATRIA-1. Murid-murid ini mengaku antusias karena baru pertama kali melihat peluncuran satelit.
“Kalau di Batam internetan masih lancar, tapi teman-teman yang ada di pulau-pulau mungkin masih ada yang kesulitan. Jadi semoga dengan adanya SATRIA-1 ini akses internet bisa dinikmati semua murid di Kepri,” ujar siswi kelas 11 SMAN 1 Batam, Fatiha Melati Azhari.
SATRIA-1 merupakan satelit Indonesia yang memiliki kapasitas terbesar di Asia dan kelima terbesar di dunia saat ini, yaitu mencapai 150 gigabyte per second (Gbps). Peluncuran satelit ini bertujuan untuk menguatkan sinyal internet hingga ke wilayah pelosok di Indonesia.
Satelit tersebut sudah mulai dibangun sejak bulan September 2020 di Perancis, tetapi sempat mengalami kendala dampak pandemi dan konflik Rusia – Ukraina. Alhasil, pembangunan SATRIA-1 baru bisa rampung pada Mei 2023 lalu. (Red)



