“Merupakan kewajiban kita menyusun penyediaan tenaga listrik yang biasa kita sebut dengan RUPTL, hal itu untuk menyampaikan kepada pemberi tugas apa yang kita rencanakan,”katanya.
Irwansyah menyebutkan, dalam RUPTL 2023-2032, PT PLN Batam memproyeksikan kebutuhan tenaga listrik 10 tahun ke depan akan meningkat dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 6 persen per tahun.
Peningkatan kebutuhan tersebut akan dipasok dengan tambahan daya sejumlah 860 MW yang terdiri dari PLTS 126 MW, PLTG 50 MW, PLTGU 159 MW dan PLTMG 125 MW serta kerja sama antarwilayah usaha dengan PT PLN (Persero) 400 MW.
BACA JUGA: Jemaah Calon Haji Embarkasi Batam Mulai Berangkat ke Tanah Suci
RUPTL Batam 2023-232 juga memasukkan opsi mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit fosil yang saat ini menyumbang 100 persen pasokan listrik di wilatah Batam.
PT PLN Batam berharap dapat meningkatkan penggunaan energi baru terbarukan (EBT) hingga mencapai 20 persen dari total bauran energi pada tahun 2032.
Dirjen Ketengalistrikan Kementerian ESDM telah mengarahkan PT PLN Batam yang telah disahkan dapat segera diimplementasikan.
“Arahan lain kepada kita yakni penting adanya kontribusi dan peran aktif dari para stakeholder termasuk PT PLN (Persero) dalam merealisasikan Interkoneksi Sumatera-Batam-Bintan. Sehingga dapat terwujud peningkatan keandalan pasokan listrik di Batam,”katanya.
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jisman P. Hutajulu berharap melalui pengesahan RUPTL PLN Batam 2023-2030, diharapkan dapat tercapai sistem tenaga listrik PT PLN Batam yang lebih andal untuk kebutuhan industri, bisnis termasuk data center dan rumah tangga.
“Tentu kesemuanya itu diharapkan dapat meningkatkan investasi di Batam,”kata Jisman.
“Dengan adanya RUPTL baru ini juga sudah direncanakan sedemikian rupa, pembangunan, baik pembangkit untuk transmisi dan distribusi dan pendukungnya berjalan optimal. Dan yang paling penting juga kami mengharapkan dari PLN pusat untuk merealisasikan transmisi dari pulau Sumatera ke Batam,” katanya. (*/man)



