“Disnaker buat pelatihan tapi hasilnya juga tidak ada,” katanya
Terpisah, Seorang pekerja galangan kapal di Sagulung, Suyadi (26) mengeluhkan perihal pembayaran gaji. Menurutnya, kerja di galangan kapal tak seindah yang dibayangkan oleh orang.
BACA JUGA:Pemko Batam Pastikan Kebutuhan Daging Segar Sapi dan Kambing Cukup Jelang Puasa dan Lebaran
Ironisnya lagi, bukan masalah gaji tapi soal kepastian. Para pekerja galangan sering dipermainkan oleh pengusaha galangan kapal melalui kontrak kerja.
“Kalau gaji sama saja. Tapi, soal kepastian kerja di kontrak per tiga bulan habis itu kami di panggil untuk sambung lagi. Tapi, Kalau disambung biasanya perusahaan main lepas begitu saja,” katanya.
Tidak hanya terus berharap akan kepastian kerja menjelang kontraknya habis, mereka juga sering mendapatkan beban kerja yang tak sesuai dengan porsinya. Bahkan sempat jatuh sakit karena tekanan kerja dari perusahan yang berlebihan.
“Jujur sudah tak ada yang betah kerja di galangan. Itu kalau mereka keterima di industri, kosong perusahan (galangan) itu,” kata Supri.
Ia menilai, sistem kerja kontrak per tiga bulan sangat merugikan para pekerja. Meskipun menurut dia hal itu bukan pelanggaran namun dia berharap sistem seperti itu dapat diubah, sehingga peminat kerja di galangan semakin meningkat.
“ Tiga bulan pertama oke kita anggap training. Tapi habis itu dikontrak lagi tiga bulan seterusnya begitu tak ada kepastian. Dengan begitu kita akan sulit untuk bertahan di galangan kapal,” katanya. (*/man)



