Terpisah, Kepala Kementerian Agama Batam, Zulkarnain Umar mengatakan prioritas saat ini adalah memastikan dan menjaga kesehatan hewan kurban. Pihaknya mengakui jumlah hewan kurban dipastikan menurun, namun berbeda dengan minat umat muslim untuk berkurban.
“Untuk jumlah hewan kurban sudah pasti turun. Sampai saat ini kami juga masih menunggu data dari masjid terkait jumlah hewan kurban tahun ini,” katanya.
Ia berharap wabah PMK ini tidak terjangkit pada hewan yang ada di Kota Batam. Menurut laporan yang diterima, petugas kesehatan hewan juga rutin melakukan pemantauan dan pemeriksaan kesehatan hewan.
“Tentu kita harapkan hewan kurban ini layak untuk dikonsumsi. Karena sudah ada fatwanya juga. Asalkan diolah dengan baik dan benar maka virus akan mati. Dan lagi ini virus tidak menularkan kepada manusia. Jadi aman untuk dikonsumsi,” katanya.
Wali Kota Batam Muhammad Rudi mengatakan penghentian pengiriman sapi ke Batam merupakan instruksi dari Kementerian Pertanian (Kementan). Saat ini sudah tidak ada lagi pengiriman hewan kurban ke Batam, meskipun pasokan masih belum mencukupi.
“Saya tidak ada menghentikan pengiriman ke sini, karena saya tidak ada wewenang. Jadi saya tegaskan ya, kalau sapi yang masuk dan keluar itu dari Kementan langsung. Kalau dari hasil pengiriman banyak kambing yang mati itu harusnya dibahas sebelum proses pengiriman ke sini, agar hal tersebut bisa dihindari,” ujarnya.
Ia menuturkan pengawasan dan pengecekan kesehatan itu bisa ditanyakan ke Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), sedangkan untuk syariatnya bisa ditanyakan kepada Kementerian Agama Batam.
“Semua sudah jelas. Namun kalau ada yang mati selama diperjalanan, artinya ada persiapan yang kurang ketika dilakukan pengiriman. Intinya kita semua berharap hewan kurban ini sehat semua,” kata Rudi.
Dinas Ketahanan Pangan Kota Batam Kepulauan Riau mencatat 393 ekor kambing asal Lampung Tengah mati setibanya didaerah setempat, diduga karena kelelahan dalam pengiriman dari daerah asal.
Akibat banyak kambing yang mati, maka jumlah hewan kurban untuk memenuhi kebutuhan warga Batam diperkirakan kurang. Mardanis menyerahkan persoalan itu ke asosiasi hewan kurban Batam.
“Kita sudah koordinasi dengan pihak terkait bahwa semua sepakat ditangani oleh asosiasi. Mau itu kapalnya dari mana, itu dari asosiasi. Karena kami tidak mau juga memberatkan asosiasi untuk memakai kapal yang kami sediakan kalau itu memberatkan mereka,” ucap Mardanis.
Selain mati, pihaknya juga menemukan kambing yang terlihat sakit. Mardanis mengatakan bahwa Satgas PMK akan melakukan pengecekan bersama-sama untuk menentukan kelayakan hewan kurban.
Sementara itu, kambing yang masih hidup bertahan menjalani karantina dalam pengawasan pihak karantina hewan.
“Kalau karantina sudah yakin sehat, baru kemudian dilepas, dan ditempatkan di kandang,” katanya. (*/man)



