“Kita sekarang tengah memetakan daerah rentan dan tinggi penderita stunting. Sehingga, bisa diambil langkah penanganan cepat dan maksimal,” ucap Ansar.
BACA:Â Tarif Baru Tiket Masuk Borobudur Rp 750.000 Diumumkan Luhut
Kendati demikian, Ansar tetap optimistis dapat menurunkan angka stunting di Kepri sesuai arahan Presiden Joko Widodo.
“Sekarang masih 17 persen. 2024, kita optimistis turun jadi 14 persen,” sebut Ansar.
Sementara itu, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kepri Rohina menyatakan pemerintah menaruh perhatian besar terhadap stunting, mengingat pemerintah pusat menargetkan 2045 Indonesia bebas stunting untuk menciptakan generasi emas, sehat dan cerdas.
Rohina menyebut stunting memicu pertumbuhan anak jadi tidak normal seperti pendek dan kurus, dan gampang sakit.
Anak penderita stunting juga rentan terserang diabetes dan jantung saat sudah memasuki usai tua.
Ia mengutarakan stunting disebabkan dua hal utama, pertama kurangnya pengetahuan orangtua tentang pemenuhan gizi saat hamil dan menyusui, atau seminggu hari pertama kehidupan.
Kedua, akibat lingkungan yang tak ada sanitasi atau jamban keluarga, dan sulitnya mendapat akses air bersih.
“Juga tak kalah penting, ibu-ibu tak boleh konsumsi obat diet saat hamil. Termasuk memperhatikan 6 bulan pertama setelah anak lahir, tak boleh diberikan makanan apa-apa kecuali susu ibu, setelah 6 bulan baru boleh sesuai pemenuhan gizi yang diperlukan,” katanya. (*/man)



