HARAPAN MEDIA.COM, JAKARTA – Calon presiden Prancis dari partai sayap kanan Perancis, Marine Le Pen kini menjadi sorotan publik setelah pernyataan kontoversial dalam kampanyenya. Jika terpilih menjadi presiden, Ia mengusulkan larangan wanita Muslim memakai jilbab di depan umum.
The New York Times dalam laporanya menyatakan, Le Pen akan melarang pemakaian jilbab di depan umum apabila dia terpilih dalam putaran kedua pemungutan suara pada Minggu. Menurut Le Pen, itu adalah “seragam Islam” atau tanda kepatuhan terhadap interpretasi ekstremis anti-Barat dari keyakinan Muslim.
Di sisi lain, pendukung Le Pen, Louis Aliot, walikota sayap kanan sekaligus mantan teman hidup Le Pen mengatakan, larangan jilbab adalah salah satu dari beberapa alat politik untuk melawan “Islamisme”, tetapi penerapannya perlu dilakukan “secara bertahap”. Hal itu dia sampaikan dalam sebuah wawancara dengan radio France Inter, seperti dikutip Reuters.
Louis Aliot mengatakan, larangan itu harus diaplikasikan ke layanan yang dikelola negara lebih dulu. Kemudian diperluas “sedikit demi sedikit”. Nantinya, kata dia, larangan itu akan ditentukan oleh anggota parlemen. “Akan ada perdebatan di parlemen dan kemudian akan ada pilihan,”.
Sebelumnya, Le Pen mengatakan bahwa jilbab tidak dapat dilihat sebagai tanda keyakinan agama seseorang, tetapi merupakan “seragam Islam” yang harus dilarang dari ruang publik Prancis.
Banyak publik bertanya siapa Marine Le Pen? Dan bagaimana sepak terjangnya di dunia politik Prancis?
Marine Le Pen adalah politikus asal Prancis kelahiran 5 Agustus 1968 di sebuah kota bernama Neuilly-sur-Seine. Dia adalah anak politikus berpengaruh bernama Jean-Marie Le Pen, pemimpin Partai National Front (sekarang National Rally).



