Tetapi, merawat kenyamanan wisatawan bukan semata-mata kepentingan tukang becak. Ini adalah kepentingan bersama.
Ada pengemudi motor sangkut yang mengangkut wisatawan menuju Belakang Padang. Ada pengusaha kuliner dan pelaku UMKM yang menunggu pengunjung singgah. Ada pula sektor perbankan yang menjadi bagian dari perputaran transaksi, termasuk melalui pembayaran digital QRIS.
Mereka berada dalam satu lingkaran ekonomi yang sama. Wisatawan yang merasa nyaman berpeluang kembali, dan setiap kunjungan membuka kesempatan bagi banyak orang untuk memperoleh rezeki.
BACA JUGA:Â Ketua DPRD Batam Minta Evaluasi Menyeluruh Terkait Pemadaman Listrik Batam Rugikan Pelanggan
Karena itu, perjuangan Ropianto semestinya tidak dibiarkan berjalan sendirian. Para pengemudi motor sangkut, pelaku UMKM, dunia usaha, dan perbankan patut ikut mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing, baik melalui gotong royong, bantuan bahan, maupun program pemberdayaan masyarakat.
Jangan sampai semua pihak berharap wisatawan terus berdatangan, tetapi hanya seorang polisi dan para tukang becak yang bersedia turun tangan merawat jalan yang mereka lalui.
Tentu, gotong royong bukan alasan bagi pemerintah untuk melepaskan tanggung jawab. Perbaikan dan pemeliharaan fasilitas umum tetap membutuhkan perhatian pemerintah serta penanganan yang memenuhi standar keselamatan. Apa yang dilakukan Ropianto semestinya menjadi pemantik kolaborasi, bukan pengganti kewajiban pihak berwenang.
Sebab, pariwisata bukan sekadar mendatangkan pengunjung atau menjual keindahan sebuah pulau. Pariwisata juga berarti merawat kenyamanan dan memastikan manfaat ekonomi mengalir kepada masyarakat yang hidup di dalamnya.
Ropianto mungkin tak mampu menghentikan laju zaman. Ia pun tak bisa menjamin bahwa beberapa lubang yang ditambal akan serta-merta menyejahterakan para tukang becak. Namun, ia sedang berusaha agar profesi itu tak kehilangan harapan di tengah perubahan.
Di Pulau Penawar Rindu, wisatawan datang mencari suasana yang berbeda. Sementara masyarakat setempat berharap setiap kunjungan membawa sesuatu yang lebih berarti daripada sekadar keramaian: kesempatan untuk hidup lebih baik.
Dari adukan semen di Jalan Kampung Jawa, Ropianto seolah mengingatkan bahwa jalan bukan hanya perkara aspal dan semen. Ia juga menyangkut kenyamanan, keberlangsungan usaha, dan masa depan orang-orang yang menggantungkan hidup pada pariwisata.
Jika Belakang Padang ingin terus menjadi tempat yang dirindukan, keindahannya harus dirawat bersama. Sebab, di balik setiap perjalanan wisata, ada banyak kehidupan yang berharap ikut sampai ke tujuan. (*/man)



