Melihat kondisi tersebut, Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Batam, Suhar, ST mengatakan banjir ini bisa melalui normalisasi termasuk di wilayah-wilayah daerah permukaan sedikit di atas permukaan laut harus ditangani.
BACA JUGA:Â Konsultasi Publik RDTR di 7 Kecamatan Mainland, Andi: Pastikan Pembangunan Kota Terarah
“Selama ini untuk pembersihan normalisasi kita punya alat dan kalau butuh pembersihan normalisasi kita lakukan namun hal itu tidak cukup. Walau kita normalisasi namun volume air yang besar tidak bisa menampungnya,” katanya.
Ia menyebut seperti di Jodoh dan Nagoya kecepatan yang tidak bisa mengimbangi dan karena itu untuk mempercepat aliran air dengan pompa. Di satu sisi tertahan oleh pasang dan butuh waktu memang satu jam bisa susut, salah satu cara mengurangi ini harus kita pompa ini salah satu.
Sedangkan untuk melebari saluran tidak solusi juga satu cara dipompa dan pada saat puncak hujan itu kita bisa membuang. Itu yang kita rencanakan dari dulu dan tahun depan kita akan memulai di Jodoh dan Nagoya dan akan dibuat stasiun pompna banjir,” kata Suhar, Senin (14/10/2024).
BACA JUGA:Â Sekda Ajak Warga Terapkan Pola Hidup Sehat Lewat Kampung Germas
Untuk seluruh Batam tentu butuh sekitar 12 titik dilakukan pemompaan. “Kalau kita hitung-hitung pompa ini yang menjadi solusi disaat air pasang kita melakukan treatment di titik tertentu untuk membuang air yang meluap.
Satu pompa punya kapasitas 1.000 liter per detik. Jadi kalau satu pompa bisa menyedot 3.600 kubik per jam. Kalau ini bisa berjalan saya yakin air tidak akan menggenangi sejumlah ruas jalan, tapi bisa langsung disedot untuk dibuang,” katanya. (*/man)



