“Dia mendapatkan jodoh orang Lebaksiu, namanya Hj. Masniah.”
Maskun bercerita bahwa setelah menikah, Masniah membantu suaminya berjualan martabak. Jualan mereka pun berpindah-pindah mengikuti keramaian setempat seperti rolet atau komedi putar dan berkeliling.
“Setiap jualan itu selalu bawa anak buah. Jadinya ketika pindah anak buahnya buat usaha mereka sendiri.”
Di Lebaksiu, saat ini, setidaknya 80 persen warganya adalah pembuat martabak telur, atau setidaknya bisa membuat martabak.
Buat warga di Lebaksiu, keahlian membuat martabak adalah tradisi turun temurun yang harus dipertahankan. (Red)



