“Kita terus mengevaluasi pengoperasian STS Crane di Terminal Umum Batu Ampar,” katanya.
Dendi menegaskan, Batam harus mengambil potensi international transhipment port yang saat ini masih didominasi oleh pelabuhan di Singapura (32.3 Juta TEUs), Busan (12.2 Juta TEUs), Tanjung Pelepas (10.6 Juta TEUs), dan Port Klang (8.4 Juta TEUs). Tiga dari Pelabuhan Transhipment dunia tersebut, memiliki kesamaan dengan Batam, yakni sama-sama berada di jalur tersibuk di dunia, Selat Malaka yang dilintasi 90.000 kapal per tahunnya.
Untuk itu, ia membutuhkan dukungan dari semua pihak dalam mewujudkan Batam sebagai hub logistik internasional dapat tercapai. Sebab, jika TPK Batu Ampar dikembangkan dengan lebih baik, akan berdampak pada perekonomian Batam dan Indonesia secara umum akan semakin meningkat.
“Kawasan Industri yang ada di Batam juga harapannya dapat berkembang dengan terbukanya pintu-pintu perdagangan dunia secara langsung,” ujarnya.



