Tujuannya hanya satu, untuk bekerja dan mengubah nasib agar menjadi lebih baik. Imbasnya hingga kini, jumlah pencari kerja di Batam pun terus meningkat dari tahun ke tahun.
Selain jumlah tenaga kerja lokal yang terus bertambah, banyak juga dari berbagai penjuru negeri yang masuk ke Batam.
Lantas bagaimana mengatasi persoalan pengangguran yang terus bertambah di Batam dan langkah apa yang harus dilakukan ? Mengingat saat ini banyak sekali angkatan kerja yang masih menganggur atau belum mendapatkan pekerjaan di Batam.
Kini yang membuat banyak pengangguran karena pendidikan kurang match. Sebagaimana diketahui berbagai ragam dengan jumlah sekitar 10.300 perusahaan di Batam sangat beragam pula kebutuhan tenaga kerjanya.
Nah dari situ melihat dan menganalisa kira-kira perusahaan ini membutuhkan tenaga kerja apa yang cocok dengan para alumni sekolah ataupun perguruan tinggi itu.
Kebanyakan kita menawarkan semua yang ada lalu perusahaan melakukan penjaringa seleksi untuk mencocokan pengalaman kerjanya ada atau tidak, karena untuk meningkatkan produktifitas mereka membutuhkan yang sudah berpengalaman.
Sementara data yang ada di kita rata-rata mereka adalah baru tamat dari pendidikan. Di sini kami mengambil langkah untuk selalu koordinasi dan komunikasi dengan setiap perusahaan untuk memberikan kesempatan lewat training awal.
Ada lagi faktornya yang informasinya didapatkan dari pengguna tenaga kerja tentang atitude pekerja. Ini juga menjadi perhatian bersama baik itu dari sisi dunia pendidikannya khususnya bagi guru atau tenaga pendidiknya tentu mengetahui karakter dari murid-muridnya.
Jadi kiranya lembaga pendidikan khususnya SMK bisa lah melakukan suatu pendataan bahwa dari sekian banyak siswa ada berapa banyak yang ingin bekerja dan setelah dapat bisa diperhatikan perilakunya agar bisa dibina lebih awal.
Muhammaf Mustofas mengatakan latar belakang akhirnya muncul inisiatif untuk membuat Ranperda Penempatan Tenaga Kerja. Ini kalau tidak update daerah akan terbebani dengan pengangguran yang luar biasa. Sesuai data BPS yang kami ambil per 2022 itu, ada sekitar 745.000 pengangguran terbuka dan 86 ribu itu pengangguran dan 40 persennya itu migrasi dari daerah lain.
“Karena kita melihat ini maka kita harus menempatkan anak-anak kita lokal juga harus menempatkan orang yang bermigrasi ke sini. Maka posisi ranperda ini akan mengatur tiga kluster yaitu kluster 1 menyangkut tentang pemberi kerja. Pemberi kerja ini kan selalu bisa diterima asal ada yang merekomendasikan dari dalam. Itu kan gak boleh itu jelas melanggar harus kita atur,” kata Mustofa.
Lalu mengatur pula tentang syarat batasan umur pencaker, bagaimana misalnya usia di atas yang di atur. Maka kita coba mengatur diranah itu tentang syarat prasyarat kerja supaya itu lebih ke yang normatif.
Ini menjadi hal yang serius yang tentu kita harus sikapi bersama supaya investasi yang masuk ke Batam ini betul-betul yang dimanfaatkan pertama sekali ialah masyarakat lokal.
Hal lainnya menyangkut pelatihan. Pelatihan itu menggerus APBD senilai 15 sampai 30 miliar, terakhir-terakhir ini saja turun karena Covid-19 dan ada kebijakan baru jadinya pemerintah Batam menyiapkan dana Rp 16 -17 miliar untuk mengadakan pelatihan. (*/man)



