HARAPANMEDIA.COM, BATAM – Para petani di wilayah Rempang mulai terpengaruh dengan rencana penggusuran warga di Rempang, Kota Batam. Para petani ini juga terancam mengalami relokasi ladang serta ternak di kawasan tersebut.
Padahal, Batam bukan merupakan daerah penghasil bahan pangan. Selama ini, beberapa hektare lahan yang ada di Rempang menghasilkan hasil bumi yang dipasok untuk warga Batam. Beberapa hasil bumi yang ditanam di antaranya, kelapa, jagung, pisang, cabai, kacang-kacangan, buah naga, semangka, durian, jambu dan sayur-mayur.
BACA JUGA:Â Kepala BP Batam Paparkan Rencana Strategis Pengembangan Pulau Rempang, Warga Digratiskan UWT Selama 30 Tahun
Rencana relokasi ini dapat mengancam ketersediaan stok pangan lokal di Batam, sehingga harganya melonjak di pasaran. Dalam hal ini, pihak Bank Indonesia tidak menampik, ketersediaan suplai dan fluktuasi harga pangan berkorelasi terhadap inflasi.
“Secara tidak langsung akan memengaruhi inflasi, sebab suplai pangan di Kepri berkorelasi terhadap inflasi,” ujar Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kepri, Adidoyo Prakoso, Rabu (23/8/2023).
BACA JUGA:Â Gravel Dapat Dukungan dan Apresiasi dari Menaker Dianggap Berhasil Ciptakan Lapangan Kerja


