Aliansi driver mengeluhkan tentang adanya pembatasan driver dengan jumlah 30 taksi online dan 60 taksi konvensional bandara yang terpilih untuk menjadi mitra di bandara.
Saat aliansi driver datang ke kantor grab, kantor grab tutup tidak ada aktivitas.
Aliansi Driver juga meminta informasi kepada kantor Maxim untuk melihat data driver Maxim yang terdaftar di bandara.
Jika terdeteksi adanya kerja sama driver taksi online dengan bandara Aliansi driver akan memblokir akun Maxim yang sudah terdaftar.
Efek yang ditimbulkan dari lock area tersebut adalah taksi online yang terpilih oleh bandara mereka dapat ambil orderan sedangkan taksi yang tidak terpilih bekerjasama dengan bandara tidak dapat menerima orderan di sekitar area bandara.
BACA JUGA: Genjot Pertumbuhan Ekonomi, Kepala BP Batam Dukung Pengembangan KEK Nongsa
“Kami aliansi driver online menentang dengan adanya lock area di sekitar bandara karena kami tidak bisa menerima orderan dari bandara akibat lock area ini termasuk R2 dan R4 pun tidak ada yang bisa masuk” ujar driver lainnya.
Mereka mengatakan tidak sepakat dengan adanya lock area di bandara.
Lock area di bandara membuat taksi online yang tidak terdaftar di bandara tidak bisa menerima pesanan.
Selain itu tarif taksi online di bandara tersebut juga berbeda dan jauh lebih tinggi dibandingkan taksi online diluar dari bandara.
Mereka meminta agar tidak ada sistem lock area dan dibebaskan saja agar semua taksi online dapat menerima orderan seperti di kawasan harbourbay Batuampar.
Harapan dari aliansi agar dapat membuka lock area di sekitar bandara dan dapat menerima orderan baik yang online ataupun konvensional. (*/man)



