Lalu, penurunan harga tarif angkutan udara disebabkan oleh penurunan permintaan pasca liburan di bulan Juli 2022 dan peningkatan jumlah penerbangan.
Secara spasial, Kota Batam dan Kota Tanjungpinang mengalami deflasi masing-masing sebesar -0,50% (mtm) dan -0,54% (mtm). Dengan perkembangan tersebut, secara tahunan Kota Batam mengalami inflasi sebesar 6,09% (yoy), dan Kota Tanjungpinang mengalami inflasi sebesar 5,36% (yoy).
BACA JUGA:Â Nilai Ekspor Batam Melonjak Juli USD1.279,72 Juta ke Singapura Capai 47,79 Persen
“Memasuki bulan September 2022, tekanan inflasi diperkirakan kembali meningkat. Beberapa risiko inflasi yang perlu diwaspadai, yakni masih tingginya harga energi secara global yang dapat berdampak pada beban subsidi BBM, dan kondisi cuaca yang berdampak pada pasokan komoditas sayur-sayuran serta ikan segar,” jelas Musni.
Berkenaan dengan hal tersebut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di level provinsi, kota dan kabupaten se-Kepri terus memperkuat sinergi dalam upaya pengendalian inflasi.
BACA JUGA:Â Diupah Rp 300 Ribu, Seorang Nakhoda Kapal Ditangkap Bawa 200 Batang Kayu Campuran
Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (Gernas PIP) yang di-launching pada 22 Agustus 2022 akan terus diperluas dengan berfokus pada 3 program yaitu: Pertama, meningkatkan produksi pangan melalui program pemanfaatan lahan pekarangan dan perluasan lahan untuk budidaya tanaman pangan.
Kedua, memperkuat kerjasama antar daerah untuk memastikan kelancaran distribusi pangan. Ketiga, melaksanakan stabilisasi harga pangan melalui operasi pasar jika diperlukan.
Dalam jangka panjang, Musni menyebutkan, TPID akan terus mendorong upaya peningkatan kapasitas produksi lokal melalui penguatan kelembagaan nelayan/petani, perluasan lahan, dan implementasi teknik budidaya yang lebih baik seperti Program Lipat Ganda dan digital farming. (*/man)


