Kunjungan ini berasal dari warga Batam, instansi pemerintah, mahasiswa, pelajar, dan sebagainya.
“Wisatawan domestik yang datang biasanya melalui biro perjalanan,” katanya.
BACA JUGA:Â Berikut Barang Hotel Yang Boleh dan Yang Tidak Boleh Dibawa Pulang
Ia melanjutkan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan, pihaknya terus mengembangkan museum, seperti menambah koleksi, meningkatkan pelayanan, dan menambah fasilitas sehingga pengunjung nyaman berada di museum.
“Fasilitas baru dengan telepon seluler setelah memindai Kode QR, wisatawan akan memperoleh secara lengkap informasi mengenai koleksi museum,” katanya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata mengatakan Museum Batam Raja Ali Haji didirikan untuk mengenalkan sejarah perkembangan Kota Batam.
Sejarah itu dari Batam sejak zaman Kerajaan Riau Lingga, Belanda, Temenggung Abdul Jamal, Jepang, masa Kemerdekaan Indonesia, Pemerintah Kabupaten Kepri, Otorita Pertama, era BJ Habibie, Kota Administratif, masuk Sejarah Astaka, Khazanah Melayu, dan infrastruktur atau era Batam sekarang.
“Selain menjadi objek wisata, museum ini juga sebagai media edukasi masyarakat Batam, khususnya para pelajar untuk mengetahui sejarah dan perkembangan Batam dari masa ke masa,” kata Ardi. (*/man)



