Beberapa hari terakhir, sebelum adanya penutupan sebanyak 70 ekor sapi yang diawasi atau di policeline. Lantaran, baru tiba di Batam.
BACA:Â Menkes Budi Canangkan Bulan Imunisasi Anak , Sebanyak 24 Ribu Anak Kepri Akan Diimunisasi
“Sudah 5 hari kami awasi. Kami tandai jangan sampai sapinya terjual selama 2 minggu ke depan,” tegas Mardanis.
Sementara itu, Penasehat Asosiasi Pedagang Peternak Sapi dan Kambing Kota Batam, Musofa mengaku pihaknya keberatan apabila mengambil sapi dari Bali. Ada beberapa faktor yang membuat asosiasi keberatan.
Ia memaparkan kendala pertama, 1 kapal hanya bisa bermuatan 500 ekor sapi. Hanya ada sapi Bali, tidak ada sapi metal yang bisa dikurbankan oleh para pejabat. Lalu, pihaknya harus menyewa sekitar 6 kapal untuk memenuhi kebutuhan sapi di Batam.
“Sapi sampai di Batam pada teler. Misalnya pernah sakit paru-paru. Selama diperjalanan, sakit semua. Sapi kurang makan 1 hari saja, timbangan sapi turun 1 kilo perhari, kalau 7 hari berarti turunnya 7 kilogram. Lama lagi kita pemulihannya di Batam. Padahal sebentar lagi sudah Idul Adha,” katanya.
Selanjutnya, harga sapi Bali sampai di Kota Batam dibanderol dengan harga Rp 23 juta modalnya saja. Katakanlah, pihaknya menjual Rp 24 juta setiap 1 ekor sapi. Padahal seharusnya bisa dijual hanya Rp 22 juta.
Sementara untuk kambing tidak ada di Bali. Pihaknya membutuhkan 18 ribu ekor kambing untuk pelaksanaan Idul Adha.
Sebelumnya diberitakan, stok hewan kurban seperti sapi dan kambing dikhawatirkan tak cukup hingga pelaksanaan Idul Adha yang jatuh pada Juli 2022 mendatang. Demikian hal ini diungkapkan oleh Penasehat Asosiasi Pedagang Peternak Sapi dan Kambing Kota Batam, Musofa.
Stok ini tidak aman, lantaran diberhentikannya suplai kambing dan sapi dari Bandar Lampung melalui Kuala Tungkal Jambi sejak seminggu yang lalu. Ditambah lagi dengan stok kambing dan sapi yang di Batam sudah semakin menipis.
“Batam ini bukan daerah penghasil. Kita tak lagi bisa masukkan barang. Karantina dari Kuala Tungkal tak bisa masuk karena ada instruksi Pak Presiden (Joko Widodo), semua daerah yang terkena Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Lockdown. Satu minggu yang lalu Karantina Kuala Tungkal lewat Kapal Roro ke Batam dihentikan sementara. Sampai akhir bulan ini, stok kambing dan akan habis dan tak bisa masuk lagi,” paparnya.
Untuk saat ini, stok sapi di Sei Temiang yang terdaftar dalam asosiasi hanya ada 250 ekor sapi, sedangkan kambing 750 ekor kambing. Dari Kebutuhan kambing 15 ribu hingga 18 ribu ekor kambing dan 3000 ekor sapi untuk momen Idul adha.
Sementara kebutuhan stok Kota Batam pada momen Idul Adha 2021 lalu sebanyak 2000 ekor lebih untuk sapi dan kambing 15 ribu ekor. Kebutuhan ini disaat masih pandemi Covid-19.
“Inikan sudah keadaan normal. Orang Singapura biasanya kurban di Batam sebanyak 30 persen,” katanya.
Musofa memaparkan kebutuhan harian rumah makan untuk sate kambing dan gulai 10 ekor perhari. Saat momen Aqiqah seperti Sabtu Minggu 75 ekor kambing.
“Sekarang dengan adanya aqiqah, rumah makan akhir bulan stok kambing diprediksi hanya ada 400an ekor,” katanya.
BACA:Â Menteri Bahlil Ajak Investor Berinvestasi di Bidang Energi Baru Terbarukan, Peluangnya Terbuka Lebar
Diakuinya, stok yang ada saat ini, palingan pertengahan Bulan Juni di Batam habis. Ia berharap, lantaran Batam bukan produksi sapi dan kambing, melainkan di suplai dari daerah lain, yakni Lampung seharusnya ada rekomendasi dari Gubernur dan wali kota agar Kuala Tungkal dibuka. Sehingga hewan kurban bisa dikirim ke Batam dan kebutuhan saat Idul Adha tercukupi.
“Kalau stok tak ada, penyembelihan hewan kurban pun tak ada. Ini bukan solusi. Sapi dan kambing yang didatangkan dari Batam sudah dites di laboratorium yang valid di Bandar Lampung. PMK dan lainnya pasti tak ada,” katanya.
Ia juga memastikan kambing dan sapi di Kota Batam saat ini steril. Terhindar dari penyakit PMK atau penyakit hewan lainnya.
“Kita dijamin pasti steril sekarang dari PMK. Lantaran tak ada perkembangbiakan disini. Sapi dan Kambing yang didatangkan juga ada sertifikat sehat. PMK berasal dari Jatim, sapi dan kambing dari Lampung, sementara Lampung ada peternakan baik perusahaan ataupu individu,” jelasnya. (Man)



