Saturday, February 21, 2026
HomeBatamKasus PMK di Lampung Berpengaruh Terhadap Ketersediaan Hewan Kurban di Batam, Pengusaha...

Kasus PMK di Lampung Berpengaruh Terhadap Ketersediaan Hewan Kurban di Batam, Pengusaha Pusing Cari Pasokan Sapi

HARAPANMEDIA.COM, BATAM – Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Batam, Mardanis mengaku memang stok sapi dan kambing di Kota Batam semakin menipis. Hal ini lantaran berhentinya suplai kambing dan sapi dari Lampung ke Kota Batam. Mengingat adanya temuan kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) di wilayah tersebut.

“Hewan kambing dan sapi itu biasanya dari Lampung, lewat Jambi, Kuala Tungkal baru ke Batam. Nah di Jambi itu ada edaran dari karantina tidak boleh mengeluarkan sapi transit di Jambi lantaran di Lampung sudah ada temuan kasus,” ujar Mardanis, Jumat (20/5/2022).

 

 

 

BACA: Mangatur Motivasi Ribuan Umat Kristiani yang Ikut Rayakan Paskah di Dataran Alun-alun Engku Putri Batam Center

Kondisi ini membuat Asosiasi Pedagang dan Peternak Sapi dan Kambing di Kota Batam kesulitan. Apalagi menjelang Hari Raya Idul Adha pada Juli 2022 mendatang.

“Saya sudah rapat sama pihak asosiasi terkait hal itu,” katanya.

Ia menegaskan Pemerintah Kota (Pemko) Batam tidak bersedia memberikan rekomendasi masuknya sapi dan kambing dari wilayah lain ke Kota Batam walaupun sudah menjelang Idul Adha. Pasalnya kebijakan tersebut sudah diatur oleh pemerintah pusat.

“Saya bilang kita tunggu sampai ada keputusan dari Kementerian tentang Idul Adha ini pasti ada kebijakan Kementerian tentang itu. Sedangkan Covid aja yang dari luar bisa masuk kalau urgent,” katanya.

 

 

BACA: Peredaran Narkoba di Kepri Tinggi, BNNP Sebar Anggota ke Kabupaten dan Kota untuk Mengintai Pergerakan Pelaku

Ia berharap, pemerintah pusat bisa memberikan kebijakan lain terkait masuknya sapi dan kambing dari wilayah lain. Misalnya dengan Standar Protokol Kesehatan (SOP) protokol kesehatan (prokes) hewan yang ketat.

BACA JUGA  PLN Batam Sukses Jaga Keandalan Sistem Kelistrikan pada Hari Raya Natal 2024 dan Tahun Baru 2025

Diakuinya, ia sudah memberikan opsi lain kepada asosiasi Pedagang dan Peternak Sapi dan Kambing Kota Batam. Salah satunya mengambil daging sapi dari wilayah Bali. Lantaran wilayah tersebut, hewannya tidak terjangkit PMK.

“Misal daerah tidak tertular seperti Bali, maka sapi Bali langsung dikirim ke Batam tanpa transit di daerah lain. Muatan 1 kapal roro biasanya 500 ekor sapi Bali. Perjalanan ke Batam kurang lebih 1 minggu. Para asosiasi bisa merental kapal dengan sistem patungan. Lalu, sediakan dokter hewan untuk mengawasi sapi-sapi selama diperjalanan,” paparnya.

 

BACA: Amsakar Ajak Semua Stakeholder Kompak sampai Level Bawah, Demi Terwujud Pembangunan

 

Namun, kata Mardanis, opsi ini tidak disetujui oleh pihak Asosiasi. Lantaran lamanya perjalanan dan kendala lainnya.

“Saya tak punya saran lain. Kalau mau masuk sapi ke Batam silakan ambil dari Bali pakai kapal roro punya Kementerian Pertanian. Itu bisa berlaku sopnya. Misalnya di desinfektan kapalnya, orang-orangnya pun dibatasi,” katanya.

Ia menambahkan PMK ini bukan penyakit yang sepele. Oleh sebab itu pemerintah pusat mengeluarkan kebijakan yang ketat.

“Selama ini kita menerima sapi yang punya sertifikat sehat. Kemudian, saat masuk Batam tidak bisa langsung diperjual belikan atau di makan, kita harus test dulu. Sapi dan kambing harus karantina 14 hari,” katanya.

BERITA TERKAIT
spot_img

POPULER HARI INI

BERITA TERKINI