Negosiasi pada Batasan yang Jelas
Menawarkan kompromi untuk hal-hal non-negosiasi, seperti jam tidur atau makan, yang memicu perebutan kekuasaan (power struggle) antara orang tua dan anak.
Sebagai gantinya, Cohen menyarankan orang tua untuk mengubah pertanyaan retoris menjadi pernyataan langsung yang lebih mengundang kerja sama. Menurutnya, anak-anak belum memiliki kematangan emosional untuk memproses setiap pilihan yang diberikan orang tua, sehingga mereka membutuhkan kejelasan instruksi.
“Satu pendekatan meningkatkan rasa malu dan defensif. Pendekatan lainnya mengundang kerja sama tim, refleksi, dan pemecahan masalah,” lanjutnya.
Instruksi yang tenang dan langsung dinilai jauh lebih efektif untuk membuat anak merasa aman dan kooperatif. Dengan memberikan kepemimpinan yang jelas, orang tua membantu anak memahami apa yang diharapkan dari mereka tanpa perlu melalui proses negosiasi yang melelahkan.
“Anak-anak tidak memerlukan pertanyaan tanpa henti untuk merasa dihormati,” papar Cohen.
Selain itu, orang tua disarankan untuk lebih selektif dalam mengajukan pertanyaan, seperti hanya untuk hal-hal yang benar-benar membutuhkan refleksi dan pemberdayaan diri anak. Pengalihan pola komunikasi itu dipercaya dapat menciptakan perubahan besar dalam tingkat kepatuhan anak di dalam rumah.
“Mengajukan lebih sedikit pertanyaan berarti kita menjadi lebih sengaja tentang kapan kepemimpinan dibutuhkan, kapan kolaborasi tepat dilakukan, dan kapan anak Anda hanya membutuhkan kejelasan,” tandasnya. (*)



