HARAPANMEDIA.COM, BATAM – Sejak 79 tahun lalu, setiap tanggal 30 Oktober diperingati sebagai Hari Oeang. Momen ini bukan sekadar seremoni atau nostalgia sejarah keuangan Indonesia. Lebih dari itu, Hari Oeang sebagai pengingat bahwa fondasi tegaknya ekonomi adalah kepercayaan publik terhadap uang dan negara.
Kilas balik, saat Indonesia baru saja merdeka, situasi politik belum stabil, perekonomian belum teratur, dan minim infrastruktur.
Di tengah keterbatasan itu, para pendahulu bangsa dengan penuh keberanian memutuskan untuk mencetak Oeang republik Indonesia (ORI). Langkah revolusioner bukan sekadar kebijakan fiskal, melainkan pernyataan harga diri, kedaulatan, dan bukti optimisme negeri ini di masa depan.
Perjuangan tentang uang tak berhenti di selembar kertas. Di Hari Oeang ke-79, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa tantangan terkini adalah kepercayaan pada nilai uang dan pengelolaannya. Terlebih di era digital, ekonomi bergantung pada faktor data, inovasi, dan public trust.
Di setiap pajak yang dibayar hingga setiap program pemerintah yang dibiayai APBN, harus dikelola secara transparan demi kesejahteraan bersama. Tanpa kepercayaan (trust), sehebat apa pun kebijakan, tidak akan berhasil.
Mungkin sebagian masyarakat bertanya: “Kenapa harus peduli dengan Hari Oeang?” Sederhananya, karena uang yang kita gunakan setiap hari adalah hasil kerja sama antara negara dan rakyat.


