Jika dilihat lebih dekat, pengaruh kawasan bebas ini tampak jelas di Batam sendiri. Ratusan ribu tenaga kerja terserap, mulai dari operator pabrik, teknisi, staf logistik, hingga tenaga profesional.
Infrastruktur kota pun berkembang, dari pelabuhan dan jalan raya hingga kawasan industri dan sarana transportasi yang menopang aktivitas bisnis dan mobilitas masyarakat.
BACA JUGA:Â Pemerintah Bebaskan PPh pasal 21 Untuk Pekerja Sektor Padat Karya
Lebih dekat lagi, dampak itu dirasakan masyarakat sehari-hari. Gaji para pekerja berputar di kos-kosan, kontrakan, warung makan, laundry, bengkel, hingga toko kelontong. Uang dari industri besar sampai juga ke pedagang sayur, penjual nasi goreng, dan warung kopi di sudut kampung. Kehidupan masyarakat ikut bergerak seiring derasnya arus investasi.
Kehadiran industri juga mengubah wajah kota. Kafe-kafe baru bermunculan, pusat perbelanjaan semakin ramai, dan tempat wisata lokal lebih bergairah karena meningkatnya daya beli masyarakat.
Apa yang dulu hanya bisa ditemukan di kota besar, kini menjadi bagian dari kehidupan Batam. Semua ini merupakan mata rantai panjang dari investasi yang masuk berkat fasilitas kawasan bebas.
Agar iklim investasi tetap kondusif, kepastian aturan dan pengawasan menjadi kunci. Bea Cukai berperan menjaga kelancaran arus barang, memastikan fasilitas kawasan bebas digunakan sebagaimana mestinya, dan mencegah potensi penyalahgunaan.
Kehadiran pengawasan yang terukur memberi rasa aman bagi dunia usaha untuk terus berinvestasi dan membuka manfaat lebih luas bagi masyarakat. (*/eko)


