Minimnya koneksi sekolah ke dunia industri membuat lulusan SMK harus mengandalkan jejaring pribadi. “Sebagian peserta bahkan harus mencari tempat Praktik Kerja Lapangan (PKL) sendiri karena sekolah tidak memiliki mitra industri,” jelasnya.
Arsendy juga mencatat, peluang kerja di sektor jasa cenderung beredar dari mulut ke mulut, bukan melalui kanal resmi atau platform rekrutmen digital.
Kondisi ini menjadi sinyal bagi pembuat kebijakan dan pelaku industri untuk membenahi sistem rekrutmen agar lebih inklusif dan adil. Tanpa perbaikan, ketimpangan sosial dalam akses kerja dikhawatirkan terus berlanjut dan memperlebar kesenjangan ekonomi di kalangan generasi muda.(*)


