“Bayangkan Rp 6,2 triliun itu Kota Batam mengelola sendiri, ditambah lagi dukungan swastanya kuat dan FTZ nya juga sudah menyeluruh. Ditambah lagi ada Rempang, Galang dan beberapa yang lain. Serta ada 3 kawasan KEK sekarang. Sehingga benar jika Batam ini memang sangat kuat sekali. Tapi hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi 7,04 dengan anggaran total Rp 6,2 triliun,” kata Ansar Ahmad.
BACA JUGA: Dinas Pariwisata Kirim Encik dan Puan Batam Hadiri Pemilihan Abang dan None Jakarta
Ansar membandingkannya dengan Kabupaten Bintan yang dalam setahun dengan anggaran APBD Rp1,2 triliun dan FTZ nya cuma sebagian ditambah satu kawasan KEK yakni Bintan Alumina.
Namun dalam pertumbuhan ekonomi Bintan bisa mencapai hingga 6,5 persen. Atau hanya berbeda 0,54 persen saja dibanding pertumbuhan ekonomi Kota Batam dengan anggaran yang cukup besar.
Seharusnya, jika dilihat dari sisi proporsi anggaran, dukungan swasta, dan beberapa kebijakan yang ada, anggaran Batam sebesar Rp6,2 triliun perbandingannya mestinya 5 kali lipat dengan anggaran setahun di Bintan yang hanya Rp1,2 triliun.
BACA JUGA: Program Kepri Terang Realisasikan Listrik Gratis untuk 11.838 Rumah Tangga di Kepri
“Batam itu pertumbuhan ekonominya harusnya bisa belasan persen, bukan 7,04 persen. Dengan porsi anggaran, geliat pembangunan, infrastruktur dan lain-lain, bahkan menurut saya bisa sampai 15 persen,” tegas Ansar.
Pertumbuhan Batam di angka 15 persen tersebut bukan hal yang mustahil karena Kabupaten Bintan dengan anggaran Rp1,2 triliun ekonominya bisa tumbuh sebesar 6,5 persen.
Belum lagi gelontoran dari Kepri ke Batam, terkait Pendidikan dan lainnya. Tentu itu juga mempengaruhi. (*/man)


