Setidaknya ada dua cara yang dilakukan pemerintah di tahap awal.
Pertama, menghapus Badan Pengawasan Tekstil yang membuat semua pengendalian harga, produksi, dan standardisasi tekstil berada di tangan pasar. Sebaliknya, pemerintah lantas membentuk Kementerian Tekstil.
Dalam situs resmi, Kementerian Tekstil bertanggung jawab atas perumusan kebijakan, perencanaan, pengembangan, promosi ekspor dan pengaturan perdagangan Industri Tekstil.
Kedua, melakukan proteksi terhadap para pengusaha tekstil, khususnya kepada para penenun yang masih menerapkan metode tradisional. Mereka diberi bantuan subsidi bahan mentah, fasilitas pemasaran, pelatihan dan bantuan keuangan.
Kedua cara tersebut, tulis Gopalakrishnan, sukses membuat industrialisasi tekstil di India berkembang. Perkembangan ini semakin pesat tatkala pemerintah juga fokus melakukan modernisasi. Modernisasi dilakukan untuk mempercepat proses produksi dan menambah variasi model tekstil. Ini terjadi karena pemerintah Ingin mencukupi kebutuhan pakaian penduduk India.
Wujud nyata dari keinginan ini terlihat pada pembentukan Dewan Handloom India dan Institut Desain Nasional. Mengacu pada situs Indian Institute of Art & Design, keberadaan dua lembaga baru ini sukses membuat industri tekstil India hidup sejak 10 tahun pasca-kemerdekaan. Dan, terpenting industri mampu menghasilkan tekstil dengan kualitas yang sudah ditetapkan.
Pada akhirnya, dalam periode 1950 hingga 1980, pabrik tekstil di India mengalami peningkatan 4 kali lipat. Angka pengangguran pun perlahan menurun. Produk-produknya sudah sukses mencapai pasar Inggris, AS, Kanada, Australia, Selandia Baru, dan beberapa negara Afrika.
Dalam perkembangannya, industri tekstil India bukan berarti tak pernah digempur dinamika zaman. Beberapa kali dihantam penurunan produksi dan aturan di tingkat global, tapi berkat kebijakan-kebijakan tersebut, industri tekstil di India tetap bertahan. (*)


