Menurutnya buruh Batam juga sudah melakukan kunjungan kerja ke Kota Bekasi untuk mempelajari sistem pengupahan di sana. Ia mengatakan, Kota Bekasi memiliki kenaikan UMK yang lebih tinggi daripada Kota Batam, yaitu sekitar 13,5 persen. Selain itu, Kota Bekasi juga menerapkan sistem upah minimum berjenjang (SJ) yang membedakan upah pekerja di bawah satu tahun dan di atas satu tahun.
“Kami merekomendasikan agar Kota Batam menerapkan SJ yang sama. Sekarang UMK Bekasi dan Kota Batam bedanya Rp 1 juta. Walikota Bekasi lebih berpihak ke buruh. Beda dengan Walikota Batam yang tidak peduli dengan nasib buruh,” kata Arsul.
Sementara itu, informasi yang beredar di kalangan buruh bahwa Walikota Batam Muhammad Rudi telah merekomendasikan UMK Batam 2024 naik sebesar 4,01 persen ke Gubernur Kepri.
BACA JUGA: Dinkes Catat 316 Warga Batam Terjangkit DBD, Masyarakat Diminta Waspada
Informasi itu membuat buruh Batam yang berunjuk rasa menjadi geram dan menyebut angka itu sebagai angka siluman yang tidak diketahui asal usulnya.
“Rp 185 ribu harga penghinaan buat kita. Walikota Batam harusnya bisa menengok hasil survei buruh. Nilai 4,01 persen tidak mencerminkan aspirasi buruh,” teriak orator aksi.
Meski hujan sempat melanda Jalan Engku Putri, buruh Batam tidak mau beranjak. Mereka tetap menunggu Walikota Batam Rudi menemui buruh untuk menjelaskan kepada buruh.
Informasi yang beredar Wali Kota Batam sedang melakukan kunjungan ke pulau. (*/man)


