Ia mengatakan pohon yang ditanam di daerah tangkapan air merupakan pohon langka dan bernilai tinggi. Rombongan menanam pohon langka dari 2 famili 6 genus dan 20 species. Terutama species dari famili Dipterokarpa, serta beberapa pohon dari jenis yang hampir punah seperti ulin eusideroxylon zwageri.
Pemilihan tanaman pohon yang cermat bertujuan untuk mengembalikan dan meremajakan keanekaragaman ekosistem hutan dan memastikan kelestarian species tumbuhan yang bernilai tinggi.
BACA JUGA: Wali Kota Buat Edaran Larang Penggunaan Plastik untuk Wadah Daging Kurban di Batam
Ia menyebut kolaborasi Serindit Philosophy Centre, KPHL, Ekspatriat dan mahasiswa menjadi suatu kekuatan dan kebersamaan dalam mengatasi hutan gundul di daerah tangkapan air. Dengan kerjasama menanam pohon ini diharapkan kawasan hutan akan sehat dan berfungsi sebagai tangkapan air.
Langkah yang dilakukan kalangan ekspatriat ini dapat menginspirasi dan memotivasi individu dan organisasi di Batam untuk melakukan kegiatan serupa yang mempromosikan kegiatan penghijauan yang keberlanjutan sehingga bisa mendorong lingkungan yang lebih hijau untuk generasi mendatang.
“Kita ingin kegiatan positif seperti ini bisa diikuti kelompok lain, demi keberlangsungan hutan yang sehat dan daerah tangkapan air yang lebih baik di Batam,” kata Rahman Usman. (*/man)


