HARAPANMEDIA.COM – Ada hal aneh dalam iklim global, Islandia yang dekat dengan kutub Utara kini mengalami penurunan muka air laut, sedangkan berbagai negara mengalami kenaikan permukaan akibat pemanasan global.
Laguna yang mengelilingi desa Höfn (dibaca hap) menjadi lebih dangkal dan sulit dilalui kapal. Arus pasang masuk dan pasang keluar lebih lemah dari biasanya. Kanal yang biasa dilalui perahu nelayan perlahan-lahan dipenuhi endapan di negara di dekat Kutub Utara itu.
“Kapal-kapal besar, ketika mereka datang penuh dengan capelin atau ikan haring, dasar kapal akan cukup dekat dengan bagian bawah [laguna]. Jadi ada peningkatan bahaya; mereka akan menabrak bagian dasar yang dapat menyebabkan kebocoran di lambung kapal, kerugian finansial, atau kapal karam,” kata Þorvarður Árnason, direktur pusat penelitian Universitas Islandia di Höfn, yang dikutip media.
“Memikirkan soal kapal karam itu menakutkan,” keluhnya.
Kepulauan Marshall terdiri dari lima pulau dan 29 dataran rendah batu karang berbentuk cincin. Mencairnya es di Greenland dan Islandia memaksa penduduk Kepulauan Marshall mengubah cara hidup dan memikirkan masa depan lebih keras.
“Di sini tidak ada gunung, ada lautan di kedua sisi Anda dan daratannya sangat tipis dan kecil,” kata Kathy Jetn̄il-Kijiner, seorang penulis dan utusan bidang iklim di Kementerian Lingkungan Kepulauan Marshall.
Ketinggian rata-rata daratan di atas permukaan laut di Kepulauan Marshall hanya 2 meter. Setiap sentimeter amat berarti di sini.
Secara global, rata-rata permukaan laut naik lebih dari 20 sentimeter sejak awal abad ke-20 dan meningkat pesat dalam tiga dekade terakhir. Sejak 1993, terjadi peningkatan rata-rata kenaikan dari 2,8 menjadi 3,6 milimeter per tahun.
Berdasarkan laporan iklim pemerintah Australia, Kepulauan Marshall mengalami kenaikan muka air laut dua kali lipat atau 7 milimeter. Kenaikan permukaan laut ini menyebabkan banjir semakin sering terjadi, jalanan semakin sering tergenang air, sumber air minum tercemar. Mata pencaharian hancur.
Sebuah studi bersama antara pemerintah Kepulauan Marshall dan Bank Dunia memberikan sejumlah pilihan, mulai dari membangun tanggul laut hingga mereklamasi tanah dan menaikkan tinggi bangunan, mengangkat ketinggian seluruh pulau, hingga migrasi sebagai upaya terakhir.
“Tapi siapa yang tahu berapa lama usaha itu akan berhasil? Dampaknya akan terus datang karena kita tidak mengurangi emisi global secepat yang seharusnya,” kata Jetn̄il-Kijiner.
Kepulauan Marshal terletak di Samudera Pasifik, sementara Höfn, Islandia, ada di persimpangan Samudera Atlantik dan Samudera Arktik. Apa yang membuat kedua tempat itu beda nasib begitu kontras?
Höfn terletak tak jauh dari tudung atau bongkahan es terbesar di Islandia, Vatnajökull. Selama berabad-abad, gunung es Vatnajökull membebani tanah di bawahnya.
Sementara, pemanasan global menyebabkan lapisan es dan gletser ini mencair dengan cepat, lebih cepat dalam 200 tahun terakhir. Saat es tersebut menghilang, daratan mulai naik yang naik membuat permukaan laut lebih rendah dari sebelumnya.
Selain itu, gletser memiliki gaya gravitasi yang membuatnya menarik air laut ke arahnya. Saat gletser mencair, air menjauhi wilayah tersebut dan mengalir sisi lain dari Bumi.
Alhasil, melalui pengukuran dengan memakai GPS, tanah di Höfn naik 1,7 sentimeter per tahun. Semakin dekat daratan dengan gletser yang mencair, semakin cepat kenaikannya. Di wilayah utara, kenaikan tanah bahkan mencapai 3,8 sentimeter per tahun.


